Public Speaking UTS
A. Public Speaking
Apa itu public speaking? Istilah public speaking bermula dari para ahli retorika yang mengartikannya sebagai seni (keahlian) berbicara atau berpidato di mana istilah tersebut sudah berkembang sejak abad sebelum masehi.
Sebagai pengertian awal, seperti yang sudah kita ketahui bahwa public speaking merupakan sebuah frasa yaitu public dari bahasa Inggris yang berarti umum dan speaking dari bahasa Inggris yang berarti berbicara, sehingga dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai bicara di depan umum.
Namun, pengertian public speaking belum mendapatkan istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia. Sehingga pada umumnya istilah yang sering digunakan sampai sekarang adalah public speaking.
Kaitannya dengan hal itu, tentunya dalam bahasa Indonesia umumnya untuk menggantikan istilah public speaking dapat menyebutnya berbicara di depan umum atau berbicara di depan publik. Di sisi lain, sebagian mereka juga masih menyebutnya dengan pidato.
TUJUAN PUBLIC SPEAKING
1. Memberikan motovasi
Tujuan utama dari public speaking adalah memberikan motivasi. Orang yang menggunakan keterampilan PS untuk tujuan ini biasanya adalah motivator, guru, dan atasan yang ingin memotivasi audiens untuk berkembang. Dengan kemampuan berbicara di depan umum, pembicara dapat menyampaikan pesan motivasi secara tepat dan mempengaruhi pola pikir orang lain agar mereka menjadi lebih bersemangat.
2. Menyampaikan Informasi
Tujuan paling mendasar dari public speaking adalah untuk menyampaikan informasi. Jenis informasi yang disampaikan bisa bermacam-macam, mulai dari ilmu pengetahuan, berita terkini, hingga pengumuman hasil penelitian sosial. Keberhasilan pembicara dalam menyampaikan informasi diukur dengan seberapa baik audiens memahami, mempertahankan, dan menerapkan ide-ide yang disampaikan.
3. Mengendalikan Situasi
Public speaking juga dapat digunakan untuk mengendalikan situasi tertentu. Sebagai contoh, jika suatu acara terjadi keheningan, pembicara dapat mengambil alih dan membuat suasana kembali ramai.
4. Memengaruhi Audiens
Keterampilan berbicara di muka umum dapat digunakan untuk memengaruhi pola pikir dan perilaku audiens. Dalam dunia PS, meyakinkan audiens merupakan tujuan yang mendasar. Pembicara yang sukses dapat mempengaruhi audiens dengan cara yang efektif, seperti dalam profesi penjualan, untuk memengaruhi konsumen agar membeli produk yang ditawarkan.
5. Menghibur
Public speaking juga dapat dimanfaatkan untuk menghibur audiens. Sebagai contoh, stand up comedian menggunakan keterampilan PS untuk menghibur penonton dengan cerita lucu dan gestur tubuh dan mimik muka yang menarik.
Sebagai tambahan, PS juga dapat memiliki tujuan lain, tergantung pada konteks dan situasi di mana keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, dalam politik, PS sering digunakan untuk mempengaruhi opini publik atau memenangkan suara dalam pemilihan umum. Sedangkan dalam dunia bisnis, PS sering dimanfaatkan untuk presentasi produk, memotivasi tim, atau menyampaikan laporan keuangan kepada investor.
Dalam setiap situasi, penting bagi pembicara untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan mereka dalam berbicara di depan umum. Dengan mengetahui tujuan yang ingin dicapai, mereka dapat mempersiapkan pidato yang lebih terarah dan efektif. Selain itu, penonton atau audiens juga akan lebih mudah memahami pesan yang disampaikan jika tujuan pidato sudah jelas.
dalam praktiknya, PS memang bukanlah keterampilan yang mudah untuk dikuasai. Namun, dengan latihan dan pengalaman, siapa pun dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbicara di depan umum dan mencapai tujuan yang diinginkan.
B. Memahami Audiens
1. Menganalisis Audiens
Adalah proses mengoleksi informasi sebanyak mungkin dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami mereka lebih baik lagi, mengutip Indeed, Melakukan audience analysis membuatmu bisa tahu siapa mereka dan hal apa yang dipedulikan oleh audiens.
Mengapa kita harus memahami audiens? karena audiens adalah fokus utama dalam public speaking.
2. Mengidentifikasi Kebutuhan dan Harapan Audiens
Sebagai seorang public speaking kita harus memahami atau mengenali kebutuhan audiens agar apa yang kita sampaikan diterima dengan baik oleh para audiens.
Para public speaking juga harus tau siapa audiens tersebut, apakah ibu-ibu, bapak - bapak, remaja atau anak - anak, guna menyesuaikan materi yang akan di sampaikan.
3. Mengenali Budaya dan Latar Belakang Audiens
Sebagai public speaker harus mencari tahu tentang keyakinan, perasaan, atau cara audiens sasaran dalam menyusun suatu topik. Keyakinan, perasaan, dan kerangka inilah yang dapat berubah dan perubahan inilah yang akan meningkatkan kemungkinan audiens mempertimbangkan secara bermakna perilaku yang Anda harapkan.
4. Berlatih Mendengarkan Secara Aktif
Sebagai public speaker bukan hanya berbicara di depan orang banyak saja, namun seorang public speaker harus mampu menjadi pendengar yang baik untuk audiensnya. Semisalnya audiens ini membutuhkan bimbingan konseling.
C. Persiapan dan Perencanaan
Mengapa persiapan dan perencanaan itu penting dalam public speaking? Karena untuk memberikan pedoman, pegangan dan arah, di mana hal tersebut selalu menjadi kegiatan pertama untuk dilakukan. Hal itu pula untuk mempersiapkan mental public speaker agar lebih percaya diri dan bisa memanage waktu para audiens.
1. Memilih Topik yang Sesuai
Sebelum melakukan public speaking perlu yang namanya memilih topik dan tujuan, yaitu:
Pertimbangkan Audiens.
Kenali Tujuan.
Identifikasi Area Minat.
Pertimbangkan Tingkat Kesulitan.
Tentukan Fokus Utama.
Pertimbangkan Kepentingan Umum.
Kaitkan dengan Pengalaman Pribadi.
Pertimbangkan Waktu yang Tersedia.
Tujuan yang Jelas.
2. Mengumpulkan Informasi dan Data Pendukung
Informasi perlu di cari oleh public speaking agar tidak salah sasaran pada saat menyampaikan ke audiens nya. Lalu data pendukung selanjutnya yaitu berupa:
Identifikasi sumber informasi
Cari contoh ilustrasi
Latihan terus menerus
Rekaman untuk diri sendiri dulu
Persiapkan materi dengan baik
Perhatian body language
Harus percaya diri
3. Membuat Outline Presentasi
Ini harus di buat dengan semanarik mungkin, pemilihan materi yang mudah di mengerti agar para audiens menikmati materinya.
4. Memahami Stuktur Dasar Presentasi
Definisikan Tujuan Presentasi, Langkah pertama adalah memahami dengan jelas apa yang ingin Anda capai dengan presentasi Anda.
Pilih Topik yang Relevan, Pilih topik yang sesuai dengan tujuan Anda dan relevan bagi audiens Anda.
Identifikasi Audiens Anda, Kenali karakteristik audiens Anda, termasuk demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan), psikografi (minat, nilai-nilai, sikap), dan kebutuhan komunikasi.
Rancang Struktur Presentasi, Bagian ini mencakup pengenalan (untuk memperkenalkan topik), isi (untuk memberikan informasi atau argumen), dan penutup (untuk merangkum dan menyimpulkan).
Pengumpulan Materi, Lakukan penelitian untuk mengumpulkan informasi, data, atau fakta yang mendukung pesan Anda. Pastikan sumber informasi dapat dipercaya.
Penyampaian Pesan yang Jelas, Pilih kata-kata dan frasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Pastikan pesan Anda terstruktur dengan baik.
Latihan dan Pemantapan. Latihanlah presentasi Anda berulang-ulang. Praktek membantu mengurangi ketegangan panggung dan memastikan Anda tampil percaya diri.
Manajemen Waktu, Pastikan Anda memahami batasan waktu yang diberikan. Selalu sisihkan waktu untuk pertanyaan dan diskusi jika sesuai.
D. Kebutuhan Visual
1. Pengenalan Alat Bantu Visual
Alat bantu visual merupakan alat yang bisa memudahkan atau malah mengganggu proses pembelajaran tergantung dari seberapa efektif mereka digunakan. Sebaiknya alat bantu visual ini di sesuaikan bagaimana para audiensnya, carilah alat bantu visual yang mudah dan menarik. Beberapa contoh alat bantu visual yang umum nya yaitu, foto, infografis, diagram, video, serta bagan dan grafik data, seperti diagram lingkaran dan diagram batang.
2. Membuat Slide Presentasi yang Efektif
Guna membuat slide presentasi yang efektif adalah untuk menarik perhatian dan kenyaman para audiens nya. Kalau slide tersebut monoton dan tidak menarik akan membuat para audiens bosan dan tidak fokus apa yang di sampaikan oleh public speaker.
3. Menghindari Overloading Informasi
Kondisi seperti ini titik dimana seseorang memiliki begitu banyak informasi sehingga menyebabkan informasi yang dimiliki tersebut tidak lagi efektif untuk digunakan sebagai penunjang kebutuhan.
4. Praktek Pembuatan Slide
Jika slide prenstasi seorang public speaker itu bagus dan menarik tidak menutup kemungkinan ada saja audiens yang meminta tutor pembuatan slidenya, jika public speaker tidak keberatan mengajarkan langkah - langkah pembuatan slide yang menarik itu.
E. Bahasa Tubuh dalam Public Speaking: Postur & Gestur
Bahasa tubuh (body language) dalam Public Speaking wajib diperhatikan semua orang yang suka berbicara di depan umum. Bahasa tubuh berfungsi menambah efektivitas pembicaraan jika dilakukan dengan tepat.
Saat berpidato atau presentasi, kita menggunakan dua bahasa: bahasa kata-kata (spoken language) dan bahasa tubuh (body language).
Public speaking merupakan aktivitas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal sekaligus. Saat menggunakan bahasa tubuh, kita menampilkan posture dan gesture.
Postur adalah posisi tubuh atau badan secara keseluruhan. Gestur adalah gerakan bagian anggota tubuh, terutama tangan dan kepala.
Pengertian Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh (body language) adalah komunikasi nonverbal (tanpa kata-kata) berupa postur dan gerak anggota tubuh.
Bahasa tubuh merupakan proses pertukaran pikiran dan gagasan yang disampaikan berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, sentuhan, artifak (lambang yang digunakan), diam, waktu, suara, serta postur, dan gerakan tubuh. (Richard E. Potter dan Larry A. Samoval, Intercultural Communication, 2006).
Fungsi Bahasa Tubuh
Knapp, M.L. dalam Nonverbal Communication in Human Interaction (New York: Holt, Rinehart, and Winston) mengemukakan lima fungsi bahasa tubuh:
1. Repetisi — Mengulang kembali gagasan yang sudah disampaikan secara verbal.
2. Subtitusi — Menggantikan lambang verbal.
3. Kontradiksi — Menolak sebuah pesan verbal dengan memberikan makna lain menggunakan pesan nonverbal.
4. Pelengkap — Melengkapi dan memperkaya pesan nonverbal.
5. Aksentuasi — Menegaskan pesan nonverbal.
Macam-Macam Bahasa 1.Tubuh
2. Senyum
3. Ekspresi Wajah.
4. Kontak Mata
5. Gerakan Tangan
6. Gerakan Kepala
Anggukan
Bahasa Tubuh dalam Public Speaking
Bahasa tubuh memegang peran kunci dalam kesuksesan public speaking. Menurut Dr. Gery Genard dalam “Public Speaking International” , setidaknya adal lima jenis bahasa tubuh yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang public speaker.
1. Gerakan dan isyarat.
Movement and gestures. Formula yang mudah diingat dalam melakukannya guna menghindari kejenuhan hadirin adalah NODS: Neutral, Open, Defined, and Strong.
Anda harus memulai dalam posisi netral (neutral) dengan kedua tangan di samping badan. Ini membuat Anda terbuka (open) alias siap selalu secara alamiah untuk menggerakkan tangan pada kalimat tertentu (defined) untu menguatkan perkataan Anda (strong).
2. Gunakan ruang
Use of space. Stage, podium, atau mimbar tempat Anda bicara adala dunia Anda. Isi ruang yang ada senyaman mungkin.
3. Gunakan alat yang ada
Dealing with objects. Menggunakan alat yang ada di sekitar podium, seperti “remote clicker” layar slide atau hand out.
4.Ekspresi wajah
Facial expressiveness. Anda bis melatih ekspresi wajah yang tepat dan memikat di depan cermin sambil mengucapkan kata-kata.
5. Suara.
Voice. Suara merupakan alat komunikasi paling fleksibel. Gunakan ekspresi vokal yang tepat dan temukan suara sejati Anda (Find Your True Voice).
Berikut ini beberapa bahasa tubuh yang sering muncul saat seseorang sedang berbicara, termasuk dalam komunikasi public speaking:
1.Menyentuh hidung: usaha untuk menutupi kebohongan.
2. Menyilangkan lengan: keangkuhan, rasa marah, atau kebohongan. Tetapi jika cuaca sedang dingin, bisa hanya berarti ia sedang kedinginan
3. Memasukkan tangan ke saku celana: gugup, cemas, bosan, atau hendak menyembunyikan sesuatu.
4. Mengetuk-ngetukkan jari ke meja: bosan atau tidak sabar
5. Mengangkat alis: takut atau terkejut
6. Bola mata melebar: selain menunjukkan rasa terkejut juga dapat menunjukkan minat atau ketertarikan pada lawan bicara.
7. Mengerucutkan bibir: cemas, tidak sabar, atau bahkan marah.
8. Menggigit bibir: tegang, cemas, atau stres.
F. Suara dan Intonasi
1.Pemahaman Tentang Kekuatan Suara
Intonasi merupakan tinggi rendahnya suara, irama suara atau alunan nada. Ketika melakukan public speaking dihadapan komunikan pastikan nada bicara yang dipakai, merupakan nada biasa sehari-hari ketika melakukan percakapan agar komunikan merasa seperti diajak berkomunikasi dengan intens. Hati-hati jangan sampai kita berbicara dengan monoton agar komunikan tidak mudah merasa bosan.
2. Melatih Volume dan Kejelasan Suara
Jika dilakukan di ruang terbuka, maka komunikator harus menaikkan volume suaranya, sebaliknya apabila dilakukan di ruang tertutup maka komunikator harus bisa menyesuaikan volume suaranya, tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu pelan. Volume yang tinggi dapat digunakan untuk menyampaikan topik yang bersemangat. Selain itu volume rendah juga dapat digunakan untuk menarik perhatian komunikan agar lebih memperhatikan apa yang sedang komunikator sampaikan.
3. Mengendalikan Kecepatan Berbicara
Speed and Pause atau kecepatan dan jeda, seorang komunikator harus memiliki kemampuan yang baik untuk mengontrol cepat lambatnya berbicara. Apabila komunikator berbicara terlalu cepat maka komunikan akan sulit untuk menerima informasi yang diberikan oleh komunikator, selain itu komunikan akan kesulitan untuk menyimpulkan makna dari informasi tersebut. Begitu pula sebaliknya apabila komunikator berbicara dengan lamban maka komunikan akan cenderung jenuh dengan topik bahasan yang disampaikan. Ketika menyampaikan informasi komunikator harus bisa mengatur nafasnya dengan teratur. Pause atau jeda ketika berbicara mempengaruhi isi pesan yang disampaikan, penempatan jeda yang tepat memberikan kesempatan kepada komunikan untuk mencerna isi dan makna dari pesan yang disampaikan oleh komunikator.
4. Menggunakan Intonasi yang Efektif
Seorang public speaker bisa menggunakan lantang sebagai penekanan, perhatikan tempo bicara, tinggi rendah suara dan atur emosi.
9. Jarang mengedipkan mata: fokus, konsentrasi, kebosanan, atau malah rasa permusuhan.
10. Terlalu sering mengedipkan mata: dapat menunjukkan kebohongan, tetapi juga dapat menunjukkan perasaan gembira. Bisa juga “penyakit”.
11. Menatap langsung pada lawan bicara: jujur, tertarik.
12. Sering menoleh: gelisah, tidak sabar.
G. Pemanis Bahasa
1. Menggunakan Gaya Bahasa yang Menarik
Siap Berbicara
Bahasa Tubuh
Nada Suara atau Tone of Voice
Mengenali Penonton
Mengatasi Ketakutan
Hapus Catatan- Catatan Kecil
Menggunakan Slide Presentasi yang Berbeda dan Unik
Nikmati Presentasi
Belajar Dari Kesalahan
2. Memahami Retorika dan Figur Retoris
Retorika adalah suatu gaya atau seni berbicara, baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) maupun melalui keterampilan teknis. Retorika sering digunakan pembicara atau komunikator dalam komunikasi publik untuk menyampaikan pesan dan membujuk (mempersuasi) khalayaknya. Keberhasilan retorika dapat tercapai jika pembicaranya memperhatikan tiga hal penting, yakni ethos (etika atau kredibilitas), pathos (emosi), dan logos (logika atau fakta).
3. Berlatih Perumpamaan, Metafora, dan Analogi
Perumpamanaan itu sendiri adalah perbandingan tidak langsung, Perumpamaan ini menawarkan deskripsi yang sangat berbeda, namun hidup berdampingan dengan cukup damai pada kucing saya—yang sebenarnya keras, lembut, dan destruktif.
Metafora adalah perbandingan langsung, pernyataan di mana dua hal, sering kali tidak berhubungan, diperlakukan sebagai hal yang sama. Juga dikenal sebagai “perbandingan langsung”, metafora dapat menciptakan gambaran dan deskripsi yang kuat, sehingga memperdalam makna objek dan gagasan.
Analogi adalah perbandingan argumentatif, menyatakan bahwa dua hal yang tampaknya berbeda bersifat “proporsional” dan, dengan melakukan hal tersebut, membangun argumen mengenai isu yang lebih besar. Analogi mungkin bukan alat utama dalam tulisan Anda, namun analogi dapat menyumbangkan perspektif yang sangat dibutuhkan dalam sebuah argumen, menarik logika pembaca. Analogi mempunyai dua tujuan:
Identifikasi hubungan bersama, dan/atau
Penggunaan sesuatu yang akrab untuk menggambarkan sesuatu yang asing.
4. Praktek Menghidupkan Cerita
Cerita adalah bagaimana manusia memaknai dunia. Cerita lebih melekat pada pendengar daripada fakta. Ketika audiens mendengar sebuah cerita, maka bukan hanya pikiran tapi juga emosi ikut terlibat. Cerita melengkapi argumen logis dengan menarik emosi. Pada akhirnya, cerita menginspirasi pendengarnya untuk bertindak.
Berikut adalah waktu-waktu yang tepat bagi pembicara untuk menerapkan metode bercerita saat berpidato atau presentasi.
Presentasi Formal
Memasarkan atau Berjualan Produk
Satu Lawan Satu
G.1. Mengatasi Kegugupan
1. Mengidentifikasi Penyebab Kegugupan
Salah satu penyebab utama rasa gugup adalah ketiadaan rasa percaya diri. Tidak percaya bahwa kita mampu dan menguasai apa yang akan kita sampaikan. Tidak yakin bahwa audiens akan menyimak dan tertarik dengan apa yang akan kita sampaikan. Atau takut jika audiens menanyakan hal-hal yang tidak kita ketahui.
2. Teknik - Teknik Mengatasi Kegugupan
Bikin Tubuh Rileks
Lakukan Persiapan yang Matang
Berlatih Secara Rutin
Gunakan Alat Bantu
Hindari Berbicara Terlalu Cepat
3. Simulasi Presentasi dengan Kegugupan
Ketika merasa gugup saat melakukan presentasi, biarlah berhenti sejenak, bernapas, dan tersenyum. Itu tidak mengubah fakta bahwa sedang gugup, tetapi membantu untuk mendapatkan kembali kendali. Namun, penting untuk berhenti sejenak di akhir sebuah ide, dan tidak sembarang tempat.
4. Mengelola Ketegangan Tubuh
Jika tubuh mengalami ketegangan akibat grogi saat prentasi makan hal bisa di lakukan adalah, tarik nafas dan selalu berfikir bahwa ini hal yang bisa di taklukan atu dengan cara lain yaitu:
Gerakan Tangan dan Jari
Kontak Mata dengan Audiens
Berjalan Dari Satu Tempat ke Tempat yang Lain
Ekspresi Muka yang menujukkan bahwa kamu bisa dan yakin
Pergerakan Kepala
Komentar
Posting Komentar